Media Online
Edisi VI, 10 Safar 1439 H / 30 Oktober 2017 M
(( Salam Redaksi ))
================================================
By_ UKM Karomah STKIP PGRI Sumenep
Assalamualiakum ikhwan akhwat...
Alhamdulillah, pada 22 Oktober kemaren yang familiyar
dikenal Hari Santri Nasional dengan semboyan Santri untuk Negri, NKRI
Hebat maka disisi lain seyogyanya kita lebih introspeksi diri untuk lebih baik
dari hari kemaren dan memiliki sifat toleran yang sangat tinggi . Aamiin
Hari Santri Nasional kali ini kami segenap keluarga
besar UKM Karomah STKIP PGRI Sumenep melaksana-kan yang namanya NGOPI (Ngobrol
Pintar) yang ber-temakan TOLERANSI dalam Bermasyarakat. Besar harapan kami
kepada ikhwan akhwat adalah setidaknya mampu mengaplikasikan nilai nilai
toleransi yang dihasilkan dari kajian Ngobrol Pintar.
Wassalamualaikum Ikhwan akhwat...
(( NGOPI ))
================================================
Toleransi Dalam Bermasyarakat
By_Nur Muhammad*
Manusia merupakan makhluk individu sekaligus juga
sebagai makhluk sosial. Sebagai makhluk sosial manusia diwajibkan mampu
berinteraksi dengan individu / manusia lain dalam rangka memenuhi kebutuhan.
Dalam menjalani kehidupan sosial dalam masyarakat, seorang individu akan
dihadapkan dengan kelompok-kelompok yang berbeda dengannya salah satunya adalah
perbedaan kepercayaan agama.
Toleransi juga dapat dikatakan istilah pada konteks
agama dan sosial budaya yang berarti sikap dan perbuatan yang melarang adanya
diskriminasi terhadap golongan-golongan yang berbeda atau tidak dapat diterima
oleh mayoritas pada suatu masyarakat. Misalnya toleransi beragama dimana
penganut Agama mayoritas dalam sebuah masyarakat mengizinkan keberadaan agama
minoritas lainnya. Jadi toleransi antar umat beragama berarti suatu sikap
manusia sebagai umat yang beragama dan mempunyai keyakinan, untuk menghormati
dan menghargai manusia yang beragama lain.
Adalah
karakter yag sudah tertanam secara mendalam oleh nenek moyang kita, hidup
berdampingan dengan berbagai perbedaan latar belakang. Baginya perbedaan adalah
keindahan yang tak dapat tergantikan. Kita tau bumi nusantara merupakan tempat
pijakan berbagai kalangan yang mnempa diri untuk hidup dalam kesatuan perangai
dengan perbedaan. Mulai zaman dahulu memang mereka banyak yang tidak mengenal
berbagai macam karya tulis yang membahas bagaimana masyarakat majmuk dapat
hidup berdampingan, akan tetapi implementasi yang mereka lakukan sudah
melampaui gerakan massa yang dimotori oleh berbagai macam teori yang tercatat secara
akademis yang mungkin juga termanipulasi oleh politisasi pengetahuan.
Peraktek
gerakan yang dilakukan oleh mereka mampu menciptakan dialektika yang telah
teruji oleh zaman. Sehingga meskipun banyak yang menganggap mereka sebagai
orang rendahan yang tidak punya cita-cita tinggi, tapi mampu menciptakan teori
yang melampaui penemuannya profesor sekalipun. Sahabat Mahbub Djunaidi pernah
mengatakan bahwa “setolol-tololnya orang adalah yang tak tahu apa itu sejarah,
sehina-hinanya orang adalah ia yang memalsukan sejarah”.
Ketika
para pemuda hari ini yang merupakan generasi harapan bangsa dan sudah menikmati
pendidikan merasa terlalu tinggi untuk melebur dengan mereka dan bahkan mencoba
untuk merong-rong ideologi leluhur yang sudah terwariskan secara turun-temurun
bisa dikatakan bahwa baginya pendidikan tersebut lebih baik tidak diberikan
sama sekali.
Belakangan ini kita dapati be-berapa kelompok yang dengan bangganya menggunakan
simbol yang seakan-akan agamis mengobok-obok bangsa berikut berbagai hal
majemuk yang terdapat didalamnya dengan menggunakan landasan yang mem-bodohi.
Sejak abad ke 6 M Rasulullah telah mengajarkan kenikmatan hidup ditengah-tengah
berbagai macam. Akan tetapi, sama sekali kita tidak pernah dapati konflik
karena perbedaan yang menimbulkan perpecahan. Sampai Rasulpun menge-luarkan
statemen “barang siapa yang menyakiti kafir zdimmi, sungguh ia telah
menyakitiku”,hal tersebut merupakan bukti kebijaksanaan Rasul sebagai suri
tauladan alam. Allahu A’lam Bissowa
*Peresume adalah salah satu orang yang aktif di UKM
Karomah STKIP PGRI Sumenep dimana tercatat sebagai anggota tahun 2016 yang
bernama angkatan Al-Kahfi. Semester III Pendidikan Pancasila dan Kewarga
kenegaraan STKIP PGRI Sumenep
================================================
Edisi VI, 10 Muharrom 1439 H / 01 September 2017 M
(( Salam Redaksi ))
================================================
By_ UKM Karomah STKIP PGRI Sumenep
Assalamualiakum ikhwan akhwat...
Alhamdulillah , tak terasa kita sudah memasuki bulan
muharram, yang mana bulan ini adalah bulan yang pertama dalam hitungan islam,
itu berarti melewati satu tahun perjalanan hidup. Semoga tahun ini lebih baik
dari tahun kemaren. Aamiin
Dan untuk menyambut awal tahun Islam 1439 H kami
segenap pengurus Unit Kegiatan Rohani Mahasiswa Kajian Rohani Mahasiswa (UKM
Karomah) STKIP PGRI Sumenep menyambut tahun baru ini dengan acara KONKOW RELIGI
yang bertemakan “Revitalisasi Ukhuwah Basyariyah ; ditengah Polemik antar Umat
Beragama” dengan jumlah peserta kurang lebih 210 orang. Harapan kami KONKOW
RELIGI ini tidak hanya sekedar acara namun mampu memberikan kontribusi besar
dalam kehidupan sehari-hari sehingga tercipta muslim yang ideal.
Wassalamualaikum Ikhwan akhwat...
(( KAJIAN KHUSUS))
================================================
ISLAM ROHINGYA DAN KITA
By_Siti Nur Havid*
Keprihatinan atas tragedi kemanusian yang dialami umat
Islam Rohingya di Rakhine, Myanmar, terus mengalir deras. Desakan untuk
menghentikan kekerasan terus digelorakan oleh berbagai komunitas dunia. Di
antaranya, NU yang bekerja sama dengan pemerintah dan ormas keagamaan lainnya
dalam wadah Aliansi Kemanusiaan Indonesia untuk Myanmar (AKIM) yang juga terus
menggalang dana untuk dikirimkan ke sana. Dalam konteks ini, relevan sekali
sabda Nabi Muhammad shallallâhu 'alaihi wasallam sebagaimana diriwayatkan
Hudzaifah al-Yaman:
مَنْ لَايَهْتَمُّ بِأَمْرِ الْمُسْلِمِينَ فَلَيْسَ مِنْهُمْ (رواه الطبراني)
“Orang yang tidak memperhatikan urusan kaum muslimin, ia tidak termasuk
dari golongan mereka.” (HR. at-Thabarani).
Di dalam
sanadnya terdapat Abdullah bin Abu Ja'far ar-Razi yang dianggap lemah oleh
Muhammad bin Hamid, namun dianggap sebagai perawi terpercaya oleh Abu Hatim,
Abu Zur'ah dan Ibn Hibban) Secara lahiriah hadits ini jelas menyatakan, orang
yang acuh dengan tragedi yang menimpa kaum muslimin di antaranya tragedi yang
dialami umat Islam Rohingya akhir-akhir ini niscaya tidak termasuk bagian dari
umat Islam.
Pertanyaannya, apakah berarti ia telah murtad dan keluar dari Islam karena
ketidak peduliannya? Menjawab pertanyaan semacam ini, Syekh Abu Sa'id
al-Khadimi (1113-1176 H/1701-1763 H), seorang pakar fiqih dari kalangan
Hanafiyah asal kota Buxara Uzbekistan dalam Bariqah Mahmudiyyah (III/344)
mengatakan:
لَعَلَّ الْمُرَادَ نَفْيُ الْكَمَالِ “Mungkin yang dikehendaki adalah
menafikan kesempurnaan bersifat dengan sifat umat Islam.” Artinya, bukan
berarti orang yang mungkin terlihat bersikap acuh otomatis keluar dari Islam,
akan tetapi ia tidak bersikap sebagaimana sikan orang Islam secara sempurna
yang memedulikan saudara-saudaranya.
Selaras
dengan penjelasan al-Hafizh Abdurra'uf al-Munawi (952-1031 H/1545-1622 M) pakar
hadits asal Kairo Mesir dalam Faid al-Qadir (VI/78):ْ“Sabda Nabi: 'Ia tidak
termasuk dari golongan merek, maksudnya tidak tergolong orang-orang yang
mengamalkan metode/sikap-sikap mereka” Penjelasan seperti ini sangat penting,
agar kesemangatan dalam menggelor-akan keprihatian terhadap tragedi yang
menimpa kaum Muslimin tidak keluar arah, harus hati-hati, hingga tidak
serampangan menuduh murtad orang yang secara sekilas terlihat tidak menampakkan
keprihatinannya secara terang-terangan.
Pentingnya Koordinasi dengan Pemerintah
Selain itu, dalam menyalurkan bantuan, penting pula
berkoordinasi dengan pihak-pihak yang mengetahui betul kondisi di sana. Dalam
hal ini Syaikh Abu Sa'id al-Khadumi memberi petunjuk (Bariqah Mahmudiyyah,
III/344):
النَّاصِحُ فِي دِينِ اللهِ يَحْتَاجُ إلَى عِلْمٍ وَعَقْلٍ وَفِكْرٍ صَحِيحٍ
وَرَوِيَّةٍ حَسَنَةٍ وَاعْتِدَالِ مِزَاجٍ وَتُؤْدَةٍ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ فِيهِ
هَذِهِ الْخِصَالُ فَالْخَطَأُ أَسْرَعُ إلَيْهِ مِنْ الْإِصَابَةِ “Orang yang
menghendaki kebaikan dalam agama Allah (di antaranya dengan membantu umat Islam
yang sedang mengalami tragedi kemanusiaan), memerlukan ilmu, akal, pikiran
sehat, pertimbangan yang cermat, watak yang adil (seimbang) dan tidak
terburu-buru.
Bila
beberapa hal ini tidak dimilikinya maka ia lebih banyak salah daripada
benarnya.”Karenanya, upaya penyaluran bantuan, baik materiil maupun tenaga
kemanusiaan, untuk tragedi kemanusiaan yang dialami umat Islam Rohingya di
Rakhine Myanmar harus dilakukan sesuai pertimbangan yang cermat, tidak
terburu-buru dan berkoordinasi dengan pemerintah sebagai pihak yang paling
paham atas situasi dan kondisi lapangan sebenarnya. Tidak bergerak
sendiri-sendiri tanpa koordinasi.
Wallahu a'lamBissowaf.
===============================================
Edisi II, 20 Rabiul Akhir 1438 H /
19 Januari 2017 M
(( OPINI ))
===============================================
Langkah Taktis Mahasiswa dalam era MEA
Sejarah
Singkat MEA
Masyarakat
Ekonomi ASEAN/MEA (ASEAN Economic Community/AEC) yang sudah
diimplementasikan 1 Januari Tahun 2016 lalu, ternyata memiliki sejarah yang cukup panjang.
Diawali pada bulan Desember 1997 saat KTT ASEAN di Kuala Lumpur, para pemimpin
ASEAN memutuskan untuk mentransformasikan ASEAN menjadi kawasan yang stabil,
makmur, dan berdaya saing tinggi dengan tingkat pembangunan ekonomi yang merata
serta kesenjangan sosial ekonomi dan kemiskinan yang semakin berkurang.
Pada
KTT ASEAN di Bali Oktober 2003, Para Pemimpin ASEAN mendeklarasikan bahwa MEA
merupakan tujuan integrasi ekonomi regional (Bali Concord II)
pada tahun 2020. Selain MEA, Komunitas Keamanan ASEAN dan Komunitas Sosial
Budaya ASEAN merupakan dua pilar integral lain dari komunitas ASEAN yang akan
dibentuk. Ketiga pilar tersebut diharapkan dapat bekerja secara erat dalam
pembentukan Komunitas ASEAN pada tahun 2020.
Selanjutnya,
pada Agustus 2006 saat pertemuan ke-38 Menteri Ekonomi ASEAN, di Kuala Lumpur,
Malaysia sepakat untuk menyusun “suatu cetak biru” yang
terpadu untuk mempercepat pembentukan MEA dengan mengindentifikasi berbagai
karakteristik dan elemen MEA pada tahun 2015 sesuai Bali Concord
II, dengan sasaran dan kerangka waktu yang jelas dalam mengimplementasikan
berbagai langkah serta fleksibilitas yang telah disepakati sebelumnya guna
mengkomodir kepentingan seluruh negara anggota ASEAN.
Pada
13 Januari 2007 saat KTT ASEAN Ke-12, para pemimpin ASEAN menegaskan komitmen
yang kuat untuk mempercepat pembentukan
Komunitas ASEAN pada tahun 2015 sejalan dengan Visi ASEAN 2020 dan BALI
CONCORD II, dan menandatangani Cebu Declaration on Acceleration of the Establishment
of an ASEAN Community by 2015. Secara khusus, para pemimpin sepakat
untuk mempercepat pembentukan Masyarakat Ekonomi ASEAN menjadi tahun 2015 dan
mentranformasikan kawasan ASEAN menjadi suatu kawasan dimana terdapat aliran
bebas barang, jasa, investasi, dan tenaga kerja terampil, serta aliran modal
yang lebih bebas. Sebagai landasan legal dan konstitusional bagi negara anggota
ASEAN maka disusunlah ASEAN Charter (Piagam ASEAN).
Selanjutnya, Indonesia telah meratifikasi piagam tersebut dengan menerbitkan UU
no. 38 tahun 2008 sebagai payung berbagai perjanjian kerjasama di tingkat
ASEAN.
Kementerian
Perindustrian telah menyiapkan langkah-langkah dalam menghadapi MEA, yang
secara umum dapat dibagi kedalam 2 (dua) bidang yaitu: (1) bidang Trade
in Goods (Perdagangan Barang), dan (2) bidang Trade
in Services (Perdagangan Jasa). Kementerian Perindustrian telah
melakukan langkah-langkah peningkatan daya saing industri dan mendorong
investasi di sektor industri. Peningkatan daya saing industri dilakukan melalui
penguatan struktur industri dengan melengkapi struktur industri yang masih
kosong dan menyiapkan strategi ofensif dan defensif dalam akses pasar.
DAMPAK
POSITIF Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA)
1.
Pada Sisi Perdagangan
Menurut
Santoso pada tahun 2008 Bagi Indonesia sendiri, MEA akan menjadi kesempatan
yang baik karena hambatan perdagangan akan cenderung berkurang bahkan menjadi
tidak ada. Hal tersebut akan berdampak pada peningkatan eskpor yang pada
akhirnya akan meningkatkan GDP Indonesia.
2.
Pada Sisi Investasi
Kondisi ini
dapat menciptakan iklim yang mendukung masuknya Foreign Direct
Investment (FDI) yang dapat menstimulus pertumbuhan ekonomi melalui
perkembangan teknologi, penciptaan lapangan kerja, pengembangan sumber daya
manusia (human capital) dan akses yang lebih mudah kepada pasar dunia.
3.
Pada Sisi Ketenagakerjaan
Terdapat
kesempatan yang sangat besar bagi para pencari kerja karena dapat banyak
tersedia lapangan kerja dengan berbagai kebutuhan akan keahlian yang beraneka
ragam. Selain itu, akses untuk pergi keluar negeri dalam rangka mencari
pekerjaan menjadi lebih mudah bahkan bisa jadi tanpa ada hambatan
tertentu. MEA juga menjadi kesempatan yang bagus bagi para wirausahawan untuk
mencari pekerja terbaik sesuai dengan kriteria yang diinginkan. Para tenaga kerja Indonesia juga dapat bekerja di
negara anggota ASEAN dengan bebas dan sesuai dengan keterampilan yang
dimilikinya.
Dampak
Positif lainnya yaitu :
Dengan adanya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), Indonesia dapat menstabilkan
perekonomian negara menjadi lebih baik. Salah satu
contohnya yaitu dengan adanya pasar bebas, barang indonesia dapat memperluas
jangkauan ekspor dan impor tanpa ada biaya dan penahanan barang terlalu lama di
bea cukai. Para investor dapat memperluas ruang investasinya tanpa ada batasan
ruang antar negara anggota ASEAN.
Para pengusaha akan semakin kreatif karena persaingan yang ketat, para
tenaga kerja akan semakin meningkatakan tingkat profesionalitas dan bakat yang
dimilikinya. Para penanam modal dari indonesia semakin jeli dalam memilih,dan
banyak hal positif lainnya yang dapat di nikmati indonesia atas adanya Asean
Economic Community 2015 mendatang.
Kita bangsa Indonesia akan mampu mengahadapi berbagai macam tantangan dalam
menyambut datangnya era Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015. Apabila kita mempunyai daya saing yang kuat, persiapan
yang matang, produk-produk dalam negeri akan menjadi tuan rumah di negeri
sendiri dan kita mampu memanfaatkan kehadiran MEA 2015 untuk menikmati dampak
positif bagi kepentingan bersama dan untuk kemakmuran rakyat indonesia.
DAMPAK
NEGATIF Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA)
1.
Pada Sisi Kompetisi
Kompetisi
akan muncul dengan banyaknya barang impor yang akan mengalir dalam jumlah
banyak ke Indonesia yang akan mengancam industri lokal dalam bersaing dengan
produk-produk luar negri yang jauh lebih berkualitas. Hal ini pada akhirnya
akan meningkatkan defisit neraca perdagangan bagi Negara Indonesia sendiri.
2.
Pada sisi Ekploitasi
Exploitation
dengan skala besar terhadap ketersediaan sumber daya alam oleh perusahaan asing
yang masuk ke Indonesia sebagai negara yang memiliki jumlah sumber daya alam
melimpah dibandingkan negara-negara lainnya. Tidak tertutup kemungkinan juga
eksploitasi yang dilakukan perusahaan asing dapat merusak ekosistem di
Indonesia, sedangkan regulasi investasi yang ada di Indonesia belum cukup kuat
untuk menjaga kondisi alam termasuk ketersediaan sumber daya alam yang
terkandung.
3.
Pada Sisi Ketenagakarejaan
Dampak
negatif pada sisi ketenagakerjaan dapat dilihat dari sisi pendidikan dan
produktivitas Indonesia masih kalah bersaing dengan tenaga kerja yang berasal
dari Malaysia, Singapura, dan Thailand serta fondasi industri yang bagi
Indonesia sendiri membuat Indonesia berada pada peringkat keempat di ASEAN. Menurut
Media Indonesia, Kamis 27 Maret 2014, dengan adanya pasar barang dan jasa
secara bebas tersebut akan mengakibatkan tenaga kerja asing dengan mudah masuk
dan bekerja di Indonesia sehingga mengakibatkan persaingan tenaga kerja yang
semakin ketat di bidang ketenagakerjaan.
Dampak
Negatif Lainnya yaitu
Sesuai
dengan pilar MEA 2015, pembatasan dalam tenaga kerja profesional akan
dihapuskan. Hal tersebut memberikan kesempatan tenaga kerja asing untuk masuk
dalam lapangan kerja di Indonesia. Dampaknya adalah kesempatan untuk
mendapatkan pekerjaan di Indonesia semakin kecil. Dilihat dari sisi pendidikan
dan produktivitas, Indonesia masih kalah bersaing dengan tenaga kerja yang
berasal dari Malaysia, Singapura, dan Thailand serta fondasi industri yang bagi
Indonesia sendiri membuat Indonesia berada pada peringkat keempat di ASEAN
(Republika Online, 2013). Selain itu, kemampuan berbahasa tenaga kerja
Indonesia juga masih dianggap kurang, dan kesiapan tenaga kerja Indonesia
hanya bergantung pada mental (BBC Indonesia, 2014).
Dampak arus
bebas investasi menimbulkan eksploitasi sumber daya yang ada di Indonesia oleh
perusahaan asing. Apabila Indonesia tidak dapat menanganinya dengan baik maka
eksploitasi besar-besaran akan membuat Indonesia mengalami kerugian. Selain
itu, Indonesia juga masih bergantung pada impor barang luar negeri. Indonesia
kebanyakan hanya mengekspor barang mentah atau barang setengah jadi. Apabila
kegiatan ekspor-impor tersebut tidak dapat dijalankan dengan baik maka
Indonesia akan diserbu oleh barang impor. Perusahaan Indonesia juga melemah
karena tidak sanggup bertahan dengan serbuan barang impor.
Ketersediaan
dan kualitas infrastruktur di Indonesia juga masih kurang. Jalur-jalur darat,
air maupun udara untuk menghubungkan pulau-pulau di Indonesia dan Indonesia
dengan negara lain belum memadai. Hal tersebut memberi dampak pada kelancaran
arus ekspor dan impor di Indonesia.
“Kita
akan menjadi budak di rumah sendiri jika kita masih stagnan dengan keadaan
yang tanpa berorientasi positif kedepan”
Pemateri (Sahabati Ulifiyah).
Lantas bagaimana langkah mahasiswa di era MEA dewasa
ini, terlebih mahasiswa STKIP PGRI Sumenep mengingat pemerintah sudah melakukan
berbagai cara untuk menghadapi era MEA. Namun dari bebrapa kebijkan pemerintah
di atas seyogynaya mahasiswa bukanlah masyarakat umum biasanya, karena
mahasiswa kiprahnya dia masyarakat
kampus sehingga ada keterbatasan waktu untuk inklud dalam meningkatkan
perekonomian masyarakat, oleh karena itu ada beberapa hal langkah taktis mahasiswa di era MEA ini yaitu
1. Mengembangkan
Hard Skill dan Soft Skill
Sangatlah
penting bagi mahasiswa untuk mengembangkan Hard Skill dan Soft Skill sehingga
output seorang mahasiswa yang nantinya akan terjun kembali ke dalam ruang
lingkup masyarakat setempat, namun karena mahasiswa ranahnya di dalam ruang
kampus maka di Kampus STKIP PGRI Sumenep ada beberapa ORMAWA (organisasi
mahasiswa) kampus yang bisa ikut andil dalam mengembangkan Hard Skill dan Soft
Skill serta akan membantu perekonomian mahasiswa itu sendiri melalui UKM PI.
Sebagaiman beberapa bulan lalu UKM PI melatih anggotanya untuk melatih
kreatifitas dengan membuat berbagai kerajinan, kemudian di susul pula dengan
kajian-kajian filsafat untuk mengasah ke-Intelektual
2. Mentradisikan
kebudayaan
Seiring
berkembangnya ilmu teknologi modern maka tak dapat kita pungkiri bahwa
tradisi-tradisi warisan nenek moyang mulai terkikis oleh tegnologi tersebut,
semisal anak yang umuran 4-10 tahun, permainan yang mereka permainkan tak seperti permainan anak beberapa puluh tahun
yang lalu. Kalau dulu masa kanak-kanak di isi dengan permain kelereng serta
permainan lainnya, namun hari ini mereka sibuk dengan smart phon yang berisi berbagai game, beberapa contoh
lapangan ada orang ta anak memfasilatasi anak tersebut sehingga nilai kesosialan
dari anak ini sangatlah berkurang dari proses pendewasaan, sehingga study kasus yang seperti ini salah
satu dampak negatif MEA hari ini yang menjadi tanggung jawab kita selaku
mahasiswa (agent of sosial control) untuk mengkonsep tradisi yang lebih nilainya
pada sosoial dari pada game di smart phonnya yang mengakibatkan seseorang
menjadi individualisme.
Edisi II, 20 Rabiul Akhir 1438 H /
19 Januari 2017 M
(( OPINI ))
===============================================
KERUDUNG GAUL
By_ Mariya, M.R
Abad 21 adalah masa meremajanya perkembangan teknologi
yang banyak menawarkan sesuatu dengan penuh instan. Baik dalam perkembangan
media sosial, alat-alat teknologi yang super canggih, sampai pada urusan
fashion yang dewasa ini sudah tampak diperhatikan oleh pencinta modernisasi.
Suatu kemirisan, ditengah canggihnya teknologi pasar fashion yang sedemikian
mengedepankan berbagai model dan merek yang katanya keluaran baru. Mulai dari
rompi, skatters, jeans dll. Bahkan busana muslimah yang tak ketinggalan
menawarkan kreasi-kreasi modelling bermacam corak dan tentunya meraup koceng
yang tidak sedikit pula. perkembangan itu pula justru disambut baik oleh para
perempuan untuk tampil fashionable sesuai dengan perkebangan zaman, oleh
perempuan muslimah sekalipun. Namun bagaimanakah pakaian yang semestinya di
gunakan sesuai syari’at islam di era modern ini? Sudah sesuaikah apa yang kita
pakai dengan apa yang di ajarkan oleh Al-Qur’an kita?
Setiap muslimah diwajibkan untuk menutup auratnya.
Tetapi dalam berjilbab malah masih banyak yang salah bahkan melenceng pada
ajaran islam dan cenderung menjerumus pada hal yang dilarang. Dalam berjilbab
sebaiknya jangan mendahulukan fashion, tetapi syariat. Bukan lantas fashion itu
di larang, justru malah dianjurkan. Karna Allah itu indah dan mencitai
keindahan. Berikut beberapa jilbab yang sering digunakan oleh para muslimah di
zaman modern ini yang tanpa disadari justru malah mendekatkan kepada azab
rabb-nya bukan malah mendapatkan ridha-Nya:
1. jilbab yag bersanggul; larangan jibab yang
bersanggul ini datang sendiri dari Rasululla SAW “Dari abu hurairah berkata
bahwa Raulullah bersbda: ada dua golongan dari neraka yang tidak pernah aku
lihat, suatu kaum yang memiliki cambuk seperti seekor sapi untuk memukul para
wanita yang berpakaian namun telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka
seperti punuk onta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan pernah masuk
syurga bahkan tidak mencium baunya walaupun baunya tercium selama sekian dan
sekian. (H.R Muslim). Jelas sekali bahwa nabiyyuna telah melarang seorang
wanita memakai jilbab yang bersanggul. Semoga kita sama-sama dijauhkan dan
dipermudah untuk bermuhasabah.
2. jilbab yang menyerupai biarawati kristen;
sebagaimana yang dijelaskan oleh Rasulullah SAW bersabda: “baranngsiapa yang
menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongannya” (H.R Abu Daud). Dalam
hal ini yang dimaksud degan meyerupai biarawati adalah berjilbab dengan cara
menampakkan bentuk lehernya. Mungkin sering kita jumpai muslimah yang masih
menggunanakan jilbab semacam itu, hal yang demikian di larang karena menyerupai
umat kristiani.
Dalam satu sisi, kita patut bersyukur di tengah negara
yang mayoritas islam ini banyak kaum muslimah yang tidak enggan menutup
auratnya. hal itu juga didukung dengan perkembangan dunia fashion bagi kaum
muslimah yang nampaknya semakin memanjakan pennampilan para perempuan. Namun
disisi lain masih banyak perempuan yang belum paham hakikat jilbab sebenarnya.
Mereka menyangka jilbab hanya sebatas berkerudung saja. Akhirnya seperti kita
lihat sekarang ini banyak perempuan yang menggunakan kerudung tetapi masih
menggunakan jeans ketat, menggunakan kaos ketat, dan pakaian yang masih tembus
pandang, dan lain sebagainya. Seakan-akan berkerudung hanya sebatas aksesoris
saja seperti yang diterangkan di atas. Dalam hal ini tentu sangat di tegaskan
dalam Al-Qur’an “Hai nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak
perempuanmu, dan istri orang-orang mukmin hendaklah mereka mengulurkan
jilbabnya ke seleruh tubuh mereka yang demikian itu supaya lebih mudah untuk
dikenal karena mereka tidak diganggu dan Allah adalah maha pengampun lagi maha
penyayang” (Q.S Al Ahzab:59)
Berikut adalah syarat-syarat berjilbab bagi kaum
muslimah;
1. Menutupi
seluruh tubuh selain yang dikecualikan dalam hal ini dijelaskan dalam Al-Qur’an
“dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman agar mereka menjaga
pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan
perhiasannya (auratnya), kecuali yang terbiasa terlihat dan hendaklh
mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan
perhiasannya (auratnya) kecuali yang tampak terlihat.....”(Q.S An Nur:31)
2. Tidak ketat
sehingga menggambarkan bentuk tubuh dan tidak membentuk lekuk-lekuk tubuhnya.
Adapun Fathimah putri Rasulullah pernah berkata kepada asma: “wahai Asma!
Sesungguhnya aku memandang buruk apa yang dilakukan oleh kaum wanita yang
mengenakan baju yang dapat menggambarkan bentuk tubuhnya ” (diriwayatkan
oleh Abu Nu’aim)
3. Kainnya
harus tebal, tidak tipis. Sebagai pelindung wanita secara otomatis jilbab harus
tebal atau tidak transparan karena jika demikian akan semakin memancing fitnah
(godaan) dari pihak laki-laki. Rasulullah SAW bersabda: “Bahwa Asma masuk ke
rumah Rasul dengan mengenakan pakaian yang tipis, maka asulullah berkata:
“wahai Asma, sesungguhnya wanita yang telah haid (baligh)tidak diperkenankan
untuk dilihat daripadanya kecuali ini dan ini dengan mengisyaratkan wajah dan
telapak tangan” (H.R Abu Daud)
4. Tidak diberi
wewangian atau parfum. Syarat ini berdasarkan larangan terhadap kaum wanita
untuk memakai wewangian bila mereka keluar rumah. Rasulullah SAW bersabda: “siapapun
perempuan yang memakai wewangian. Lalu ia melewati kaum laki-laki agar ia
menghirup wanginya, maka ia sudah berzina” (H.R An-Nasa’i)
5. Bukan libasy
syurah (pakaian popularitas), berdasarkan hadist Ibnu
Umar yang berkata, Rasulullah SAW bersabda; “Barangsiapa yang menegakkan
pakaian syurah (untuk mencari popularitas)di dunia, niscaya Allah menegakkan
pakaian kehinaan pada hari kiamat, kemudian membakarnya dengan api neraka”
(H.R Abu Daud dan Ibnu Majah), dan lain sebagainya.
Dari uraian diatas, semoga menjadi bekal untuk kita
semua khususnya muslimah untuk bermuhasabah diri melalui pakaian yang sesuai
syariat islam. Karna diibaratkan dengan perhiasan, maka sebaik-sebaik perhiasan
adalah wanita shaliha. Wallahu a’lam
=============================================
Edisi II, 20 Rabiul Akhir 1438 H / 19 Januari 2017 M
(( KULTUM ))
===============================================
KEISTIMEWAAN DAN PENTINGNYA
SOLAT BER JEMAAH
Oleh: Ipunk
Assalamualaikum Wr. Wb
Pembaca yang di rahmati Allah.
Shalat
yaitu sutu ibadah yang di tetapkan oleh Allah khususnya kepada ummat muslim
dimana dalam rukun islam bait ke dua sudah jelas disana di sebutkan, maka
dari itu kita selaku ummat muslimin muslimah wajib hukumnya untuk melaksanakna
shalat lima waktu yang telah di tetapkan dalam kitapnya, yaitu meliputi dari
Subuh, Dzuhur, ashar, maugrib, isyak.
Didalam kewajiban
ummat muslimin muslimat melak sanakan shalat lima waktu, Allah memberikan
keutaman – keutaman di dalamnya yang hal ini sering di sepelekan oleh ummat
muslim, dimana dalam setiap gerkan solat yang meliputi berbagai gerakan mulai
dari takbirotul ihrom sampai salam tanpa kita sadari gerakan gerakan tersebut
mempunyai berbagai keistimewaan seperti hal contohnya ketika bertakbir
mengangkatkan kedua telapak tangan hingga ibu jari menyentuh telinga, bahwa
sanya ketika tangan di angkat ke atas sampai ke telinga maka secara otomatis
orang tersebut akan merasakan ketenangan. Dilain itu jika kita melak sanakannya
dengan benar-benar dan mengikuti ketentuan dalam rukun-rukun shalat maka kita
akan sehat, karena didalam gerakan shalat mengandung keistimewaan yang baik
bagi tubuh kita.
Selain
keistimewaan dalam segala gerakan didalam shalat, Allah pun masi sangat pamrih
kepada hambanya, yaitu ketika solat berjamaah. Dimana didalam solat berjamaah
pahalanya akan di tambah 27 derajat, di tegaskan kembali dalam hadist Nabi
Muhammad saw . “SHOLATUL JAMAA’AT TAFDOLU SHOLATU LILFADZDZI BISAB’I WA
‘ISYRINA DAROJAT”. Artinya :”Sholat berjema’ah itu keutamaannya melebihi
sholat sendirian (munfarid) dengan 27 derajat.” (HR. Buhori dan muslim).
Dari hadis
diatas sudah jelas bahwasanya faidah shalat ber jema’ah sangatlah besar. Tiada
lain itu karena Allah sangat sanyang kepada kita. Di tinjau dari hikmah yang
lainnya shalat berjama’ah dapat memupuk tali persaudaran dan kebersamaan
antara satu sama lain, tidak membeda bedakan siapa saya siapa dia, tanpa
memandang miskin atau kaya, pandai atau bodoh, tua atau muda, pejabat
atau kuli bangunan, bupati atau rakyat, guru atau murit, dosen atau mahasiswa
dan lain sebagainya. Itu terealisasi tidak luput karena mereka secara bersama
sama rukuk dan bersujut menghadap kepada sang Ilahi Robbi, dengan di
kordinatori oleh satu imam. Maka dari itu kita selaku hambanya yang sudah
bertahun tahun mengikuti perintahnya dan menjauhi larangannya marilah kita
sejenak menikmati indahnya suatu kebersamaan, kenikmatan, keindan dan merdunya
ayat-ayatnya dengan berjemaah, khususnya kepada para mahasiswa dan dosen STKIP
PGRI Sumenep ini.
Wassalamualaikum Wr. Wb
=====================================================
EDISI I
Rabu, 05 Rabiul Akhir 1438 H / 04 Januari 2017 M




0 komentar: